Wednesday, February 11, 2009

Tak Perlu Sekolah, Ikut Bimbel Pun Lulus


Perdebatan mengenai ujian nasional (Unas) tiada henti. Ada yang setuju Unas sebagai standar kelulusan, tapi banyak juga yang tidak setuju.
Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur Prof Dr Zainuddin Maliki MSi mengatakan bahwa Unas itu perlu. Namun, Unas jangan dijadikan sebagai standar kelulusan. Melainkan sebagai brand smart (standar mutu). Ya, semacam ujian toefl lah. Di dalam hasil ujian toefl, semua peserta dinyatakan lulus. Tapi dengan nilai tertentu, seerti nilai 450, 500, 550 dan lain-lain.
“Jadi apa keberatannya Unas kok dijadikan alat kelulusan? Kalau saya, itu hanya akan membuat orang histeris, kesurupan massal, pencurian soal, perjokian, dan lainnya,” terang Zainuddin, Senin (19/1).
“Sesungguhnya yang stres itu semua pihak kok, tak hanya siswa. Orangtuanya, sekolahnya, kepala sekolahnya juga takut. Sampai-sampai kepala sekolah bikin tim sukses dan MoU dengan kepala sekolah lain, karena pengawasannya silang,” tambahnya.
Praktik-praktik semacam ini, lanjutnya, tidak terpantau oleh panitia Unas.
“Akhirnya hanya gengsi-gengsian. Kalau jujur dinilai secara obyektif dan transparan, betul 98 persen yang lulus ? Aku tidak percaya,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya ini.
Dengan demikian, yang terjadi sesungguhnya kita ini penguji tapi tidak menguji. Punya prestasi tapi tidak berprestasi. Sekolah tapi sesungguhnya tidak sekolah dan belajar tapi sesunggunhya tidak belajar alias seolah-olah belajar atau seolah-olah sekolah.
Alasan Unas dijadikan sebagai standar kelulusan adalah untuk memotivasi belajar. Tapi nyatanya bila diserahkan ke sekolah, banyak pihak yang tidak percaya. Akibatnya dapat membentuk masyarakat yang low trust atau zero trust. Pemerintah tidak percaya pada sekolah, dan sebaliknya sekolah tidak percaya pada pemerintah.
Kemudian pendidikan kita menjadi tidak efektif. Banyak orang hanya mengejar kelulusan Unas. “Mendidik itu membutuhkan suasana otentik, nyata, punya kesempatan khusus untuk bereksperimen, kan ada pepatah yang mengatakan bahwa experience is the best teacher,” katanya.
Jadi, kalau memang sistem evaluasi Unas seperti sekarang ini, tidak perlu bikin sekolahan dan siswa juga tidak perlu sekolah. Cukup anak-anak diikutkan bimbingan belajar (bimbel) setiap hari, tidak perlu sekolah, 90 persen di jamin akan lulus Unas. Karena mereka setiap hari dilatih mengerjakan soal-soal.
“Sekarang sekolah berubah fungsi menjadi tempat bimbel. Jika disekolah tidak cukup bimbelnya, mereka ikut les. Kalau tidak ikut bimbel, mereka khawatir tidak lulus Unas,” tuturnya.
Tapi di sisi lain, Unas juga ada manfaatnya, yakni memberi peluang sebesar-besarnya untuk membuka bimbel. Tentunya ini market bagi bimbel atau bisa dibilang kalau tidak ada Unas, tidak ada bimbel.

No comments: